Medicastore App

Belanja obat lebih mudah di aplikasi medicastore

Tendonitis Popliteus


Tendonitis Popliteus

Definisi Tendonitis Popliteus

Tendonitis popliteus adalah kelainan yang tidak umum terjadi tetapi sering dialami oleh atlet dan orang dengan riwayat cedera ligamen otot lainnya. Kelainan melibatkan otot popliteus yang berada di aspek posterolateral dari lutut. Secara teori, tendinitis popliteus adalah celah yang terdapat pada tendon popliteus.

Anatomi

Otot popliteus adalah otot kecil pada sudut posterolateral lutut. Otot popliteus unik karena bagian otot yang tebal berada di distal dan insersionya di bagian proksimal.  

Fungsi utama dari otot popliteus adalah rotasi internal, yang juga disebut dengan endo rotasi tungkai bawah, selama berjalan. Peran terpenting dari otot ini adalah memberikan stabilisasi ke depan, dan juga stabilisasi dari retraksi sisi belakang sendi lutut dan meniskus lateral selama gerakan fleksi lutut. Otot ini memungkinkan lutut untuk fleksi ketika ekstensi penuh. Karena fungsinya sebagai pembuka kunci, otot popliteus sering dianggap sebagai kunci untuk membuka lutut. Popliteus juga berperan mencegah rotasi eksternal berlebihan dari tibia.  

Penyebab Tendonitis Popliteus  

Tendinitis popliteus dapat terjadi akibat penggunaan yang berlebihan dari unit tendon-otot popliteus. Kelainan ini biasanya terjadi pada atlet yang berlari atau berlatih pada daerah berbukit atau permukaan yang tidak rata.

penyebab tendonitis popliteus

Sumber gambar: journals.healio.com

Penyebab yang sering adalah gaya varus langsung, di mana tibia terotasi ke eksternal, atau hiperekstensi lutut yang tiba-tiba dengan tibia terotasi ke dalam. Tendinitis popliteus juga dapat dikaitkan dengan hiperpronasi kaki karena hal ini menyebabkan rotasi eksternal dari tibia.  

Gejala Tendonitis Popliteus

Tendonitis popliteus diketahui berdasarkan nyeri akut pada sendi lutut bagian posterolateral. Nyeri dapat disertai dengan peradangan, pembengkakan yang terlokalisasi, kemerahan dan nyeri tekan pada sisi lateral lutut, pada insersio tendon popliteus. Area di sekitar tendon popliteus juga nyeri. Bunyi berderak (krepitasi) ketika tendon bergerak juga dapat terdengar. Nyeri terutama dirasakan saat berdiri ketika sudut lutut fleksi antara 15–30 derajat (saat fase mengayun awal). Nyeri bertambah ketika berlari dan reda ketika istirahat.

Gejala mungkin tidak ditemukan ketika periode istirahat. Efusi sendi tidak ditemukan kecuali terdapat masalah yang bersamaan.

Diagnosis Tendonitis Popliteus

Mengenali gejala dan mendiagnosis tendinitis popliteus dengan tepat adalah hal yang sangat penting. Kesalahan diagnosis dapat menyebabkan pembedahan yang tidak diperlukan.  Tendinitis popliteus jarang terjadi dan seringkali merupakan cedera posterior lutut yang salah terdiagnosis.  Diagnosis tendinitis popliteus harus dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan Pencitraan

Pencitraan secara rutin tidak diperlukan. Gambaran rontgen sebagian besar normal tetapi dapat menunjukkan radiodensitas pada kasus kronis. MRI dapat dilakukan untuk menyingkirkan kelainan intra-artikular atau avulsi tendon.

Diagnosis Banding Tendonitis Popliteus
  • Kelainan meniskus lateral, misalnya kista
  • Osteochondritis dissecan
  • Sindrom iliotibial band
  • Cedera ligamen kolateral lateral
  • Penyakit sendi degeneratif
  • Meniskus lateral
  • Instabilitas tibiofibular proksimal

Penanganan Tendinitis Popliteus

Kunci untuk terapi fisik adalah dengan melatih pasien untuk melakukan kegiatan menggunakan teknik yang alami. Pasien harus menghindari stress jaringan yang berkaitan dengan bergerak terlalu genu varus atau postur valgus, atau stress jaringan cepat pada pasien dengan stabilitas postural ekstremitas bawah dinamis yang buruk.  

Penanganan tendinitis sejak lama adalah konvensional. Tujuan penanganan adalah untuk mengurangi nyeri, dan memperbaiki fungsi lutut. Standar terapi mencakup metode RICE, OAINS dan latihan penguatan otot (latihan eksentrik).

1. RICE: rest, ice, compression, elevation. Bermanfaat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan, yang juga dapat membantu memulai proses penyembuhan. Imobilisasi total harus dihindari untuk mencegah atrofi otot; oleh karena itu, beban ringan harus digunakan untuk memandi kesejajaran normal pada jaringan kolagen.  

2. OAINS: obat anti inflamasi non steroid dapat diberikan kepada pasien untuk mengurangi nyeri dan dapat memberikan manfaat lain pada tendonitis akut karena efek anti peradangannya.

3. Latihan penguatan dan peregangan: ketika nyeri telah berkurang, latihan penguatan dan peregangan dapat dimulai dan dapat ditingkatkan perlahan. Latihan otot yang paling efektif pada kasus masalah tendon adalah latihan eksentrik karena serat kolagen akan diatur dalam arah yang benar/fungsional. Penguatan eksentrik (rantai kinetic tertutup) dari otot quadriceps efektif untuk mengurangi tegangan di popliteus.  

Pasien tidak boleh berlari hingga lutut bebas nyeri, kemudian harus membatasi olahraga dan lari menuruni bukit setidaknya selama 6 minggu. Selama perawatan, bersepeda dapat menjadi olahraga alternatif. Ultrasonography, shock wave therapy, orthotic, pemijatan dan modifikasi teknik merupakan pilihan penanganan, tetapi hanya ada sedikit data untuk mendukung penggunaannya saat ini. Menggunakan ultrasound dan melakukan pemijatan friction transverse juga dapat menjadi bagian dari terapi, karena dapat memperbaiki proses penyembuhan.

Pasien juga harus menggunakan alas kaki yang tepat yang dapat memperbaiki hiperpronasi dan mencegah tendinitis popliteus.

Pembedahan adalah penanganan yang efektif yang harus dilakukan pada pasien yang gagal sembuh dengan terapi konvensional.

Referensi:
  • boneandspine.com/popliteus-tendonitis-symptoms-and-treatment/
  • www.physio-pedia.com/Popliteus_Tendinitis

Diperbarui 21 Agustus 2023

tendonitis popliteus

Spesialis Terkait

Obat Terkait

ABDIFLAM ACLONAC AKNIL ALAXAN ALIF ALLOGON AMOXICILLIN ANAFEN ANALSPEC ANASTAN ANTRAIN ARCOXIA ARFEN ARGESID ARTHRIFEN ARTRILOX ASAM ASIMAT ATRANAC ATROCOX BENEURON BENOXICAM BIMACYL BIMASTAN BRUFEN BUFAFLAM BUFECT CAMELOC CATAFLAM CELEBREX CELECOXIB CENDO CIPROXIN CLOFECON CORSTANAL COUNTERPAIN COXILOID COXIRON COXTOR DATAN DEFLAMAT DENTACID DEXKETOPROFEN DEXPROFEN DICLOFENAC DICLOFLAM DIVOLTAR DOFEN DOGESIC DOLO DOLO-LICOBION DOLOFEN DOLOS EFLAGEN ERPHAFLAM ETORICOXIB ETORVEL EXAFLAM FARGETIX FARSIFEN FAXIDEN FEBRYN FELDCO FELDENE FEMISIC FENAMIN FENATIC FENRIS FETIK FEVRIN FLAMAR FLAMIC FLAMOXI FLASICOX GALTAREN GENOSTEN GINIFAR GITARAMIN GOFLEX GORALGIN GRAFIX HEXCAM Hotin HUFAGRIPP IBUPROFEN IKAFLAM IMOREN INFELD IREMAX IRGAPAN ITRAMOL KADIFLAM KADITIC KALIUM KALTROFEN KEREN KETESSE KETOROLAC KLOTAREN KONIFLAM LACOSIB LAFEN LAFLANAC LANAREUMA LANTIFLAM LAPISTAN LEXAGIN LEXAPROFEN LEXICAM LONENE LOXIL MATSUNAFLAM MAXSTAN MECOX MEFENAMIC MEFENTAN MEFINAL MEFINTER MEFIX MEGATIC MELET MELFION MELOCID MELOXICAM MELOXIN MERFLAM MEVILOX MEXPHARM MIONALGIN MOBIFLEX MOFEN MOLASIC MOVI-COX MOVIX MOXAM NACOFLAR NATRIUM NAVOREN NAZOVEL Neo Strata NEURALGIN NEUROFENAC NEUROPYRON-V NEUROSANBE NICHOFLAM NICHOSTAN NILAREN NIMOTOP NONFLAMIN NORAGES NOTRITIS NOVAXICAM NOVEXIB NUBREX NUCOXI NULOX OPISTAN ORINOX OSTARIN OSTELOX PENAGON PILOPIL PIROCAM PIROFEL PIROXICAM PONALAR PONDEX PONSAMIC PONSTAN PONSTELAX PRITAGESIC PROFENAL PROFENID PRONALGES PRORIS PROSIC PROSINAL PROSTANAC RAOST RAVEN REMABREX REMATOF RENADINAC REPASS RHELAFEN RHETOFLAM RIBUNAL ROFIDEN ROXIDENE SAMCOFENAC SAMROX SCANAFLAM SCANDENE SCANTAREN SELPYRON SIKSTOP SIMPROFEN SIMRIS SORICOX SPEDIFEN STANALIN STANZA STILERAN SULFITIS TEAMIC TERANOL TERMOFEN TILFLAM TOFEDEX TOPGESIC TORAMINE TORASIC TORDEX TRIFASTAN TROFLAM TROLAC TROPINEURON TROPISTAN VELCOX VOLTADEX VOLTAREN VOLTEN VOXIB WIROS WITRANAL X-CAM XEPAFEN XEPATHRITIS XEVOLAC XICALOM